GAS BERACUN DALAM MOBIL

Posted by Bram on December 14th, 2009

smksuv

Berada di dalam mobil ternyata tak menjamin bebas polutan. Bahkan, kadar pencemar udara di dalam mobil sering kali lebih pekat ketimbang di udara bebas.

Di kota yang panas dan penuh dengan polutan macam Jakarta atau Surabaya, memang nyaman kalau bermobil yang dilengkapi dengan AC. Biar pun suhu udara luar mobil sangat menyengat, di kabin mobil terasa sejuk. Bisingnya suara kendaraan lain juga sedikit teredam karena semua bagian mobil tertutup rapat.

Namun, siapa sangka kondisi nyaman di dalam mobil itu ternyata bisa membawa maut. Apabila ada sedikit saja bagian yang tak tertutup rapat, berbagai polutan udara bisa saja masuk tanpa terasakan. Dampaknya pun bisa lebih buruk dibandingkan dengan dampak polutan yang melayang-layang di udara terbuka.

Asap knalpot dan rokok

Menurut Tollison, dalam bukunya Clearing the Air. Perspectives on Environment Tobacco Smoke, polusi yang terjadi dalam kabin mobil tadi digolongkan dalam pencemaran udara dalam ruangan. Sementara, bila polusi terjadi di tempat yang tidak dibatasi oleh sekat dengan udara bebas dikelompokkan dalam pencemaran udara bebas atau luar. Dari keduanya, polusi di dalam ruangan menjadi pusat perhatian, lantaran 80% aktivitas manusia modern dilakukan di dalam ruangan.

Berada dalam mobil ber-AC umpamanya, ternyata tak menjamin kita akan terbebas dari polutan. Penutupan semua jendela rapat-rapat tak mampu benar-benar mengalangi pertukaran udara beserta segala zat penyusunnya, termasuk zat-zat polutan, ke dan dari dalam kabin mobil. Hasil penelitian Auto Week (1996) menunjukkan, orang yang berada dalam kabin mobil sesungguhnya mengirup lebih banyak polutan daripada orang yang berada di luar. Pendapat umum yang menyatakan orang di luar mobil macam pejalan kaki atau pengendara sepeda motor terpapar lebih banyak polutan tidaklah tepat. Mereka justru lebih sedikit mengisap polutan karena efek pengenceran udara bersih. Polutan di udara bebas cepat terembus angin sehingga tidak terkumpul di suatu tempat dan konsentrasinya tidak pekat. Berbeda dengan yang dialami penumpang mobil tertutup. Polutan dalam mobil terkumpul sehingga kadarnya relatif tinggi lantaran minimnya udara bersih pengencer.

Polutan yang banyak ditemukan mencemari udara tadi di antaranya karbon monooksida  (CO), hidrokarbon (HC), nitrogen oksida NOx, dan partikel-partikel debu atau jelaga. Namun, di antara polutan tersebut, CO-lah yang memberikan efek buruk cukup instan dan paling tidak dikehendaki kehadirannya pada kadar tinggi di dalam kabin mobil. Senyawa ini sangat beracun, tak berbau, tak berwarna, dan tak berasa, serta hanya bisa dinetralisasikan dengan oksigen. Senyawa CO dapat bereaksi dengan haemoglobin (Hb) darah membentuk karboksihaemoglobin (Hb-CO) yang tak bisa mengangkut oksigen dalam sirkulasi darah. Celakanya kemampuan CO dalam mengikat Hb ternyata 210 kali lebih kuat ketimbang Oksigen (O2), sehingga oksigen akan kalah bersaing. Seseorang yang teracuni gas CO akan mengalami gejala sakit kepala, gangguan mental (mental dullness), pusing, lemah, mual, muntah, kehilangan kontrol otot, diikuti dengan penurunan denyut nadi dan frekuensi pernapasan, pingsan, dan meninggal. Kasus pingsan atau bahkan meninggal akan terjadi bila kadar Hb-CO dalam darah sudah mencapai 60% dari total Hb darah atau lebih.

Di dalam mobil, sumber utama CO adalah asap knalpot dan rokok. Para ahli, termasuk Henrie Hemmink dari Auto Week (1994), menyatakan, sejumlah CO mau tak mau akan menerobos masuk ke dalam kabin mobil dari luar. Di kota besar, 9 – 14 ppm (part per million/bagian per juta) CO terdeteksi dalam kabin mobil yang sedang melaju. Sebagai pembanding, baku mutu udara ambien RI adalah 20 ppm CO/8 jam. Artinya asap knalpot sudah menyumbang sekitar setengah batas kadar CO yang diperbolehkan.

Keadaan lebih parah lagi bila pengemudi atau penumpang merokok dalam mobil. Sebab, pada asap rokok selain terkandung ter, nikotin, dan CO2, juga berisi CO. Hasil penelitian menunjukkan, kadar Hb-CO dalam darah perokok mencapai 4 – 5% total Hb dan perokok berat bisa mencapai 10%. Bandingkan dengan kadar Hb-CO dalam darah penduduk kota besar “cuma” 1 – 2%.

Tak cuma itu, menurut Dr. Edwin Chow, ahli keselamatan lalu lintas Malaysia dalam Asiaweek (1994), pengemudi yang merokok akan kehilangan 50% konsentrasi berkendara, mengawang entah ke mana. Sisanya masih tetap pada jalan raya. Padahal, demi keselamatan tiap pengemudi dituntut konsentrasi penuh ke jalan raya. Selain itu CO asap rokok bisa pula menyebabkan kelelahan berlebih pada pengemudi. Asap rokok yang tak cepat terbuang ke luar pun akan menghalangi pandangan mata pengemudi, indera terpenting dalam berkendaraan. Bila sudah sangat pekat juga bisa memedihkan mata.

Meng-”hijau”kan kabin mobil

Mengingat dampak buruk yang ditimbulkan oleh kebiasaan merokok di dalam mobil, terutama yang dilakukan pengemudi, sudah selayaknya merokok di dalam mobil tidak dianjurkan. Bahkan, di Amerika Serikat seorang pengemudi bisa didenda AS $ 250 jika tertangkap basah mengemudi sambil merokok.

Untuk menghilangkan atau minimal mengurangi dampak yang diakibatkan oleh polutan dalam kabin mobil, terutama CO, ada beberapa langkah yang bisa ditempuh. Upaya itu di antaranya:

  1. Mengurangi produksi CO dalam kabin mobil dengan tidak merokok saat berada dalam perjalanan di dalam mobil. Jurus ini efektif untuk meredam 60% kadar CO.
  2. Merawat mobil dengan lebih teliti agar serbuan CO dari luar mobil bisa ditangkal. Bagian lantai dan kolong mobil perlu selalu diperhatikan. Manakala ditemukan lubang sekecil apa pun, perlu segera dilas. Karet pintu dan jendela juga perlu diperiksa. Bila rusak atau bocor, perlu segera diganti. Yang tak kalah pentingnya, pemeriksaan terhadap knalpot. Jika ada kebocoran, hendaknya mobil segera dibawa ke bengkel knalpot.
  3. Mengontrol secara rutin stelan mesin. Perbandingan yang tidak tepat antara bahan bakar dan udara bisa mengakibatkan pembakarannya menjadi tidak sempurna dan produksi polutannya berlebih.

Kalau saja setiap pemilik mobil melakukan upaya di atas, niscaya polutan tak akan masuk ke dalam kabin mobil. Paling tidak, jumlah polutan yang masuk bisa ditekan seminimal mungkin.

Tags: , , , ,

Leave a Reply